Kamis, 12 Mei 2016

MUSEUM SOEHARTO


SEJARAH
Museum memorial Jenderal Besar Soeharto diresmikan pada 8 Juni 2013 oleh Probosutedjo, adik Soeharto, bertepatan dengan hari lahir Soeharto. Museum ini dibangun di atas lahan seluas 3.620 meter persegi, untuk untuk mengenang jasa dan pengabdian Soeharto semasa hidupnya untuk bangsa Indonesia agar dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda. Koleksi yang tersimpan di dalamnya antara lain benda kenangan milik Soeharto sejak berdinas di kemiliteran hingga saat menjabat sebagai presiden Republik Indonesia, termasuk berbagai prestasi yang pernah diraih semasa menjabat Presiden ke-2 Indonesia. dibangun dan diresmikan oleh H. Probosutedjo (adik dari Soeharto) dan Siti Hardijanti Rukmana (Mbak Tutut, putri pertama Soeharto)
Memorial ini dibangun menjadi tetenger dan sumber inspirasi bagi generasi muda, selain itu untuk mengenang jasa dan pengabdian beliau kepada bangsa negara Republik Indonesia.

BAGIAN MUSEUM
Memasuki museum ini terdapat patung besar Jenderal Besar H.M. Soeharto karya seniman Edhi Sunarso, bersebelahan dengan batu besar sebagai prasasti peresmian museum. Dalam pendopo memajang piranti multimedia berisikan gambar-gambar perjuangan Soeharto serta buku elektronik yang bersebelahan dengan patung setengah badan Soeharto. Untuk melihat koleksi lengkap dari museum ini, pengunjung dapat memasuki ruang diorama yang dikemas dengan perpaduan tradisional dan modern. Memasuki ruangan ini, pengunjung akan disambut dengan instalasi roll film berisi dokumentasi visual gerak tentang perjuangan Soeharto. Selain itu juga terdapat diorama perjuangan ketika melakukan koordinasi dengan Panglima Besar Jenderal Sudirman pada Serangan Umum 1 Maret 1949. Di dalam diorama ini ada penggambaran ketika Soeharto diundang oleh FAO di Roma tahun 1985 untuk mendapatkan penghargaan keberhasilan dalam swasembada pangan.

Petilasan dan Sumur Tempat Pak Harto Lahir. Dibagian belakang, kita akan menemukan sebuah petilasan dan sumur tempat pak Harto lahir, tinggal dan juga mandi saat kecil. Disamping petilasan ini juga terdapat rumah joglo yang sederhana namun juga modern karena terdapat AC didalamnya dan adanya ukiran dari akar pohon. Disana juga terdapat watu blorok yang dikatakan sebagai tempat penyampaian pesan atau isyarat. Secara keseluruhan, museum Soeharto Jogja ini merupakan obyek wisata yang tepat untuk mengenang sejarah. Apalagi, museum ini memang tidak sekedar museum namun berisi perjalanan hidup HM Soeharto dan desainnya juga cukup menyenangkan dan memiliki nilai seni yang tinggi.


STRUKTUR ORGANISASI
•Dibawah naungan Management Warsa Mandala yang dimiliki H. Probosutedjo (adik dari Soeharto)
•Pengelola
-Kepala : Teguh
-Wakil kepala : Gatot Nugroho
-Pelindung
-Penasehat
-Bendahara
-Unit Penugasan :            °Unit Pemanduan (edukasi)
°Unit Administrasi
°Unit Humas
°Unit Kebersihan
 °Unit Security


JENIS ATRAKSI
1.1 Atraksi Edukasi
Dalam pendopo memajang piranti multimedia berisikan gambar-gambar perjuangan Soeharto serta buku elektronik yang bersebelahan dengan patung  setengah badan Soeharto. Wisatawan(rombongan) akan diajak melihat dan mengingat perjuangan Soeharto ,yang akan di bantu oleh seorang pemandu  sebelum memasuki diorama.

1.2 Atraksi Diorama
Kemudian setelah memasuki museum, pengunjung akan disambut dengan instalasi berisi dokumentasi visual gerak tentang perjuangan Soeharto.Ruang diorama ini sangat menarik karena penyajiannya menggunakan proyektor dan kaca tersembunyi dalam lorong – lorong, sehingga ruangan ini cukup menarik perhatian.Perjuangan – perjuangan pak harto ini pun dikemas dalam bentuk hologram sehingga tidak akan bosan saat memasuki ruangan yang penuh memorial ini.

SASARAN PASAR
Museum ini di buat sebagai penanda dan pengingat serta wahana edukasi tentang salah satu tokoh besar dalam sejarah bangsa Indonesia yakni HM. Soeharto. Oleh karena itu museum ini sangat  cocok untuk semua kalagan baik itu pelajar, mahasiswa, maupun kalagan pemerintah atau swasta yang memang asli bangsa Indonesia, ataupun wisatawan mancanegara yang ingin mempelajari lebih dalam tentang sejarah Indonesia.

TARGET KUNJUNGAN
Pengelola mengatakan bahwa museum ini tidak mentargetkan berapapun wisatawan yang akan datang. Akan tetapi pengelola mengatakan museum ini dibuat dengan kapasitas 600 orang. Namun apabila pada masa liburan bulan peak season dan hari-hari libur nasional yang mengakibatkan pengunjung melebihi kapasitas, maka di wajibkan untuk ketua rombongan atau agent yang membawa wisatawan untuk memberikan konfirmasi terlebih dahulu untuk  penyesuaian waktu dan tanggal sebelum datang ke museum agar tidak terjadi kelebihan kapasitas.

CATATAN KRITIS
            Kelebihan dari museum ini sendiri terlihat pengelolaan kebersihan dimuseum sehingga museum terlihat baik dan terawat. Sarana edukasi museum yang bias dibilang sudah sangat modern pada jamannya. Selain itu aturan yang dipatuhi baik oleh pengelola museum maupun pengunjung yang datang ke museum ini. Dan untuk amenitas di museum ini sendiri bagi wisatawan sudah cukup baik. Sehingga wisatawan nyaman untuk berkunung dan berwisata di museum ini.


            Selain kelebihan tersebut, masih ada beberapa kekurangan, seperti kurangnya papan penunjuk arah untuk menuju destinsi mudeum ini, sehingga pengunjung agak kesulitan. Dan juga tidak adanya pembatasan kunjungan bagi wisatawan sehingga ditakutkan akan membuat ketidaknyamanan pengunjung dan akan timbul kerusakan yang tak terdugan , serta saat saya berkunjung terlihat kurangnya kesadaran wisatawan untuk menjaga kebersihan di area museum.

Minggu, 13 Maret 2016

MUSIK TRADISIONAL GEJOG LESUNG



Hampir semua orang menyukai musik. Tapi berbeda dengan musik yang satu ini. Musik tidak hanya dihasilkan oleh alat musik modern atau klasik yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita dan digemari para remaja saat ini, seperti gitar, bass, drum, piano ataupun keyboard. Namun, ibu-ibu di Desa Candran Kebonagung Imogiri Bantul Yogyakarta dapat menghasilkan alunan suara musik yang indah dari kayu yang berbentuk perahu yang sudah agak kusam dan tua ini. Untuk menuju Desa candran, kebonagung, imogiri, bantul sangatlah mudah, tempatnya yang tidak jauh dari pusat kota yogyakarta serta jalan yang bagus dentinasi ini dapat ditempuh sekitar satu setengah jam saja menggunakan kendaraan pribadi.
Gejog lesung, , salah satu seni tradisional dari Yogyakarta. Seni yang merupakan bentuk ucapan syukur kepada Dewi Sri atau Dewi Padi atas melimpahnya panen padi itu terancam punah. Dulu, lesung dipakai untuk memisahkan bulir padi dari batangnya. Perkembangan zaman ini menumbuk di dalam lesung dinilai kurang efektif. Sehingga kini gejog lesung sudah mulai ditinggalkan sekarang warga lebih sering menggunakan alat selep padi ketimbang gejog lesung. Menggunakan Gejog Lesung padi yang dihasilkan lebih sedikit dan membutuhkan waktu yang lama karena membutuhkan ketekunan. Oleh karena itu Gejog Lesung sudah tidak digunakan lagi oleh warga. Sekarang Gejog Lesung sudah jarang ditemukan, kalaupun masih ada usianya mungkin sudah sangat tua.
Ciri khas dari kesenian ini adalah alu dan juga lesungnya. Alu adalah alat yang terbuat dari kayu untuk menumbuk padi, sedangkan lesung yang berbentuk mirip perahu digunakan untuk memisahkan padi dari tangkainya. Alat music ini tidak bisa dimainkan sendiri atau individu. Biasanya alu ini akan ditabuh oleh tujuh hingga delapan orang agar menciptakan perpaduan bunyi yang indah. Agar lebih menarik, tradisi ini sudah dipadu dengan nyanyian-nyanyian Jawa seperti Caping Gunung, Gundul Gundul Pacul serta lagu panembrama. Biasanya ada penari yang melenggak-lenggok  untuk mengiringi suara gejog lesung yang berbunyi thok-thek-thok-thek.

Selain itu, biasanya gejog lesung dari Desa Candran Kebonagung Imogiri Bantul Yogyakarta diiringi tarian nini thowong yang ditarikan oleh ibu-ibu yang sangat bersemangat, konon, gejog lesung memiliki hubungngan atau sejarah dengan nini thowong. Ada Legenda tentang Gerhana Bulan  yang bercerita tentang Gejog Lesung. Konon, ada Raksasa Kala Rahu yang ingin memakan Bulan. Ketika itu Nini Thowong  yang menjaga Bulan sedang tertidur,lalu Raksasa Kala Rahu berhasil memakan separuh Bulan. Maka, masyarakat pun membuat bunyi-bunyian, termasuk memukulkan alu ke lesung. Nini Thowong pun terbangun, lalu memanah Raksasa Kala Rahu, sehingga Bulan dimuntahkan kembali.


Musik Tradisional Gejog Lesung saat ini sudah menjadi salah satu kesenian tradisional. Sekarang sudah hampir jarang sekali ditemui kesenian Gejog Lesung. Kesenian tersebut hanya dimainkan oleh ibu-ibu yang terbilang lanjut usia, dan hanya pada acara atau even tertentu saja. Jika kesenian gejog lesung tidak dilestarikan oleh generasi muda maka lambat laun akan punah, dan generasi yang akan datang seperti anak cucu kita sudah tidak mengenal kesenian ini lagi, sebagai generasi muda kita wajib melestarikan kesenian tradisonal ini agar kesenian dan peninggalan nenek moyang ini tetap ada dan diharapkan melalui kesenian Gejog lesung generasi muda bisa tumbuh dengan ceria dan melestarikan budaya bangsa.