Minggu, 13 Maret 2016

MUSIK TRADISIONAL GEJOG LESUNG



Hampir semua orang menyukai musik. Tapi berbeda dengan musik yang satu ini. Musik tidak hanya dihasilkan oleh alat musik modern atau klasik yang sudah tidak asing lagi ditelinga kita dan digemari para remaja saat ini, seperti gitar, bass, drum, piano ataupun keyboard. Namun, ibu-ibu di Desa Candran Kebonagung Imogiri Bantul Yogyakarta dapat menghasilkan alunan suara musik yang indah dari kayu yang berbentuk perahu yang sudah agak kusam dan tua ini. Untuk menuju Desa candran, kebonagung, imogiri, bantul sangatlah mudah, tempatnya yang tidak jauh dari pusat kota yogyakarta serta jalan yang bagus dentinasi ini dapat ditempuh sekitar satu setengah jam saja menggunakan kendaraan pribadi.
Gejog lesung, , salah satu seni tradisional dari Yogyakarta. Seni yang merupakan bentuk ucapan syukur kepada Dewi Sri atau Dewi Padi atas melimpahnya panen padi itu terancam punah. Dulu, lesung dipakai untuk memisahkan bulir padi dari batangnya. Perkembangan zaman ini menumbuk di dalam lesung dinilai kurang efektif. Sehingga kini gejog lesung sudah mulai ditinggalkan sekarang warga lebih sering menggunakan alat selep padi ketimbang gejog lesung. Menggunakan Gejog Lesung padi yang dihasilkan lebih sedikit dan membutuhkan waktu yang lama karena membutuhkan ketekunan. Oleh karena itu Gejog Lesung sudah tidak digunakan lagi oleh warga. Sekarang Gejog Lesung sudah jarang ditemukan, kalaupun masih ada usianya mungkin sudah sangat tua.
Ciri khas dari kesenian ini adalah alu dan juga lesungnya. Alu adalah alat yang terbuat dari kayu untuk menumbuk padi, sedangkan lesung yang berbentuk mirip perahu digunakan untuk memisahkan padi dari tangkainya. Alat music ini tidak bisa dimainkan sendiri atau individu. Biasanya alu ini akan ditabuh oleh tujuh hingga delapan orang agar menciptakan perpaduan bunyi yang indah. Agar lebih menarik, tradisi ini sudah dipadu dengan nyanyian-nyanyian Jawa seperti Caping Gunung, Gundul Gundul Pacul serta lagu panembrama. Biasanya ada penari yang melenggak-lenggok  untuk mengiringi suara gejog lesung yang berbunyi thok-thek-thok-thek.

Selain itu, biasanya gejog lesung dari Desa Candran Kebonagung Imogiri Bantul Yogyakarta diiringi tarian nini thowong yang ditarikan oleh ibu-ibu yang sangat bersemangat, konon, gejog lesung memiliki hubungngan atau sejarah dengan nini thowong. Ada Legenda tentang Gerhana Bulan  yang bercerita tentang Gejog Lesung. Konon, ada Raksasa Kala Rahu yang ingin memakan Bulan. Ketika itu Nini Thowong  yang menjaga Bulan sedang tertidur,lalu Raksasa Kala Rahu berhasil memakan separuh Bulan. Maka, masyarakat pun membuat bunyi-bunyian, termasuk memukulkan alu ke lesung. Nini Thowong pun terbangun, lalu memanah Raksasa Kala Rahu, sehingga Bulan dimuntahkan kembali.


Musik Tradisional Gejog Lesung saat ini sudah menjadi salah satu kesenian tradisional. Sekarang sudah hampir jarang sekali ditemui kesenian Gejog Lesung. Kesenian tersebut hanya dimainkan oleh ibu-ibu yang terbilang lanjut usia, dan hanya pada acara atau even tertentu saja. Jika kesenian gejog lesung tidak dilestarikan oleh generasi muda maka lambat laun akan punah, dan generasi yang akan datang seperti anak cucu kita sudah tidak mengenal kesenian ini lagi, sebagai generasi muda kita wajib melestarikan kesenian tradisonal ini agar kesenian dan peninggalan nenek moyang ini tetap ada dan diharapkan melalui kesenian Gejog lesung generasi muda bisa tumbuh dengan ceria dan melestarikan budaya bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar