Hampir
semua orang menyukai musik. Tapi berbeda dengan musik yang satu ini.
Musik tidak hanya dihasilkan oleh alat musik modern atau klasik yang
sudah tidak asing lagi ditelinga kita dan digemari para remaja saat
ini, seperti gitar, bass, drum, piano ataupun keyboard. Namun,
ibu-ibu di Desa Candran Kebonagung Imogiri Bantul Yogyakarta dapat
menghasilkan alunan suara musik yang indah dari kayu yang berbentuk
perahu yang sudah agak kusam dan tua ini. Untuk menuju Desa candran,
kebonagung, imogiri, bantul sangatlah mudah, tempatnya yang tidak
jauh dari pusat kota yogyakarta serta jalan yang bagus dentinasi ini
dapat ditempuh sekitar satu setengah jam saja menggunakan kendaraan
pribadi.
Gejog
lesung, , salah satu seni tradisional dari Yogyakarta. Seni yang
merupakan bentuk ucapan syukur kepada Dewi Sri atau Dewi Padi atas
melimpahnya panen padi itu terancam punah. Dulu, lesung dipakai untuk
memisahkan bulir padi dari batangnya. Perkembangan zaman ini menumbuk
di dalam lesung dinilai kurang efektif. Sehingga kini gejog lesung
sudah mulai ditinggalkan sekarang warga lebih sering menggunakan alat
selep padi ketimbang gejog lesung. Menggunakan Gejog Lesung padi yang
dihasilkan lebih sedikit dan membutuhkan waktu yang lama karena
membutuhkan ketekunan. Oleh karena itu Gejog Lesung sudah tidak
digunakan lagi oleh warga. Sekarang Gejog Lesung sudah jarang
ditemukan, kalaupun masih ada usianya mungkin sudah sangat tua.
Ciri
khas dari kesenian ini adalah alu dan juga lesungnya. Alu adalah alat
yang terbuat dari kayu untuk menumbuk padi, sedangkan lesung yang
berbentuk mirip perahu digunakan untuk memisahkan padi dari
tangkainya. Alat music ini tidak bisa dimainkan sendiri atau
individu. Biasanya alu ini akan ditabuh oleh tujuh hingga delapan
orang agar menciptakan perpaduan bunyi yang indah. Agar lebih
menarik, tradisi ini sudah dipadu dengan nyanyian-nyanyian Jawa
seperti Caping Gunung, Gundul Gundul Pacul serta lagu panembrama.
Biasanya ada penari yang melenggak-lenggok untuk mengiringi
suara gejog lesung yang berbunyi thok-thek-thok-thek.
Selain
itu, biasanya gejog lesung dari Desa Candran Kebonagung Imogiri
Bantul Yogyakarta diiringi tarian nini thowong yang ditarikan oleh
ibu-ibu yang sangat bersemangat, konon, gejog lesung memiliki
hubungngan atau sejarah dengan nini thowong. Ada Legenda
tentang Gerhana Bulan
yang bercerita tentang Gejog Lesung. Konon, ada Raksasa Kala
Rahu yang ingin memakan Bulan. Ketika itu Nini
Thowong yang menjaga
Bulan sedang tertidur,lalu Raksasa Kala Rahu berhasil memakan
separuh Bulan. Maka, masyarakat pun membuat bunyi-bunyian, termasuk
memukulkan alu ke lesung. Nini Thowong pun terbangun, lalu memanah
Raksasa Kala Rahu, sehingga Bulan dimuntahkan kembali.
Musik
Tradisional Gejog Lesung saat ini sudah menjadi salah satu
kesenian tradisional. Sekarang sudah hampir jarang sekali ditemui
kesenian Gejog Lesung. Kesenian tersebut hanya dimainkan oleh ibu-ibu
yang terbilang lanjut usia, dan hanya pada acara atau even tertentu
saja. Jika kesenian gejog lesung tidak dilestarikan oleh generasi
muda maka lambat laun akan punah, dan generasi yang akan datang
seperti anak cucu kita sudah tidak mengenal kesenian ini lagi,
sebagai generasi muda kita wajib melestarikan kesenian tradisonal ini
agar kesenian dan peninggalan nenek moyang ini tetap ada dan
diharapkan melalui kesenian Gejog lesung generasi muda bisa tumbuh
dengan ceria dan melestarikan budaya bangsa.
