SEJARAH
BAGELEN
Tanah bagelen merupakan suatu
kawasan di selatan Jawa Tengah menurut tata negara Mataram masa Sultan Agung, (
FA Sutjipta 1963 ) yang disebut tanah bagelen terdiri dua bagian dalam satu
kesatuan yaitu wilayah bagelen di sebelah barat sungai progo sampai timur
sungai bogowonto disebut “Tumbak Anyar” dan yang kedua wilayah di barat sungai
Bogowonto sampai Timur Sungai Donan ( Cilacap ) yang disebut “Urut Sewu” . dua
wilayah Tumbak Anyar dan Urut Sewu itulah yang dinamakan Tanah Bagelen yang
melegenda.
Wilayah Bagelen sekarang sudah
terpecah menjadi beberapa Kabupaten yaitu Kabupaten Kulon Progo, Kabupaten
Purworejo ( gabungan kadipaten Kutoarjo dan Brengkelan ), Kabupaten Kebumen (
gabungan kadipaten Ambal, Gombong, Karanganyar, dan Kutowinangun ), Kabupaten
Cilacap, ditambah Kabupaten Wonosobo, sisa dari wilayah yang dahulu dikenal
sebagai Urut Sewu atau Ledok.
Nama Bagelen menurut Profesor
Purbatjaraka (1954) seorang ahli sejarah Kuno, berasal dari kata pagaluhan,
wilayah yang masuk dalam kekuasaan kerajaan Galuh.
Berdasarkan
penelitian Arkheologi Yogyakarta, ( Prayitno Hadi S, 2007 ) teryata di pusat
wilayah Bagelen tepatnya di Desa Bagelen dan sekitarnya yang masuk dalam
Kabupaten Purworejo, sekurang-kurangnya terdapat sekitar 70 buah situs
Megalitik dan Puluhan Situs Klasik Hindhu-Budha
Salah satu tempat yang menarik
adalah Desa Watukuro kecamatan Purwodadi, Purworejo, lokasinya di muara sungai
Bogowonto. Menurut Profesor DR. N J. Khrom (1950) seorang ahli Purbakala di
Desa ini dahulu terdapat tempat untuk Perabuan Jenazah-jenazah Raja-Raja
Mataram Hindhu, demikian juga asal usul Raja Mataram Hindhu terbesar yaitu Diah
Balitung. Sayang situs peninggalan purbakala di desa Watukuro telah hilang
akibat adanya sistem tanam paksa pada abad 19.
Menurut Profesor Brandes (1889)
di Pulau Jawa sebelum masuknya Pengaruh Hindhu, berdasarkan bukti dan data-data
Prasasti telah memiliki paling tidak 10 macam kepandaian khusus yakni
pertunjukan wayang, musik gamelan, seni syair, pengrajin logam, sistem mata
uang untuk perdagangan, navigasi, irigasi, ilmu falak, dan sistem pemerintahan
yang teratur.
Bagelen
memiliki nilai dan karismatik sebagai sebuah wilayah. Wilayah yang luas -terdapat
20 kecamatan jika dibandingkan dengan kondisi administratif saat ini- dan
terletak di Jawa Tengah bagian selatan (tepatnya di Yogyakarta) itu memiliki
peranan yang sangat penting dalam sejarah tanah air. Operasi militer,
perlawanan terhadap Kompeni, pembangunan candi (Prambanan dan Borobudur)
merupakan beberapa bukti pentingnya wilayah tersebut.
Bukti-bukti
kebesaran Bagelen tercatat sebagai berikut:
1.
di era Majapahit, Raja Hayam Wuruk pernah memerintahkan untuk menyelesaikan
pembangunan candi makam dan bangunan para leluhur, menjaga serta merawatnya
dengan serius (Negarakertagama);
2.
di era Demak, Sunan Kalijaga (anggota Wali Songo) mengunjungi dan menyebarkan
Agama Islam di Bagelen serta mengangkat muridnya, Sunan Geseng untuk berdakwah
di wilayah Bagelen;
3.
di awal Dinasti Mataram, Panembahan Senopati menggalang persahabatan dengan
para kenthol (tokoh-tokoh) Bagelen untuk menopang kekuasaannya.
4.
ditemukannya bukti-bukti sejarah, seperti Lingga (52 buah), Yoni (13),
stupa/Budhis (2), Megalith (22), Guci (4), Arca (38), Lumpang (24), Candi Batu
atau berkasnya (8), Umpak Batu (16), Prasasti (3), Batu Bata (8), temuan lain
(17), dan Umpak Masjid (20).
Tapi
pada akhirnya, Bagelen sebagai sebuah kawasan yang solid akhirnya terpecah
seiring dengan ditandatanganinya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) yang
didesain oleh Kompeni Belanda untuk memecah Mataram menjadi dua kerajaan;
Kasunanan Surakarta (Solo) dengan Sunan Paku Buwono III sebagai raja
pertamanya, dan Kasultanan Yogyakarta dengan Sultan Hamengku Buwono I sebagai
rajanya.
Sebagian
masuk Solo, dan sisanya masuk Yogyakarta. Secara peradaban, Bagelen sudah
terbelah. Abad XIX (1825-1830), Bagelen ikut dalam Perang Jawa. 3000 prajurit
Bagelen di bawah kendali Pangeran Ontowiryo menyokong perjuangan Pangeran
Diponegoro yang terpusat di Tegalrejo, Magelang. Saking kuatnya perlawanan
Bagelen, Kompeni Belanda sampai harus menggunakan taktik Benteng Stelsel,
dengan mambangun 25 buah benteng di kawasan Bagelen.
Usaha
Belanda untuk semakin memperlemah Bagelen dilanjutkan di tahun 1901. Tanggal 1
Agustus, Bagelen dihapus secara karesidenan dan dilebur ke dalam Karesidenan
Kedu. Selanjutnya Bagelen hanya dijadikan sebagai sebuah kecamatan saja.
Kemudian Belanda juga membangun jalur transportasi Purworejo-Magelang untuk
memudahkan pengawasan. Belanda juga menempatkan batalion militer reguler dengan
dibantu serdadu negro (Ambon?). Kebijakan ini sangat nyata untuk menghilangkan
jati diri Bagelen sebagai sebuah kawasan yang sangat berakar.
Mungkin
hanya itu yang dapat saya sampaikan, tulisan ini mungkin belum cukup komplit,
tapi setidaknya bisa membantu menerangkan sejarah Bagelen
Tidak ada komentar:
Posting Komentar