NYAI BAGELEN
Gb.
Pesarean Nyai Bagelen
Purworejo kota kecil yang kini sudah
sangat tua memiliki banyak sejarah yang
harus di gali tak terkecuali legenda yang berkembang di Purworejo,
Purworejo
Merupakan salah satu saksi sejarah di kota kecil Jawa Tengah yang lebih
tepatnya di daerah pesisir laut selatan perbatasan dengan Magelang dan
Yogyakarta,Purworejo yang dahulunya di kenal dengan Tanah Bagelen yang
pada saat ini merupakan daerah yang sangat di segani oleh daerah-daerah lain,
Di
Purworejo Berkembang legenda yang secara turun-temurun telah menjadi cerita
rakyat orang Purworejo, Salah satunya adalah Nyai Bagelen
Pada jaman Mataram I, tersebutlah seorang raja yang bijaksana
yang bernama Prabu Sowelocolo. Ia memiliki enam orang putra, masing-masing
bernama Sri Moho Punggung, Sendang Garbo, Sarungkolo, Tunggul Ametung, Sri
Getayu, dan Sri Panuhun.
Sri Panuhun memiliki seorang cucu, anak dari Joko Panuhun atau
Joko Pramono yang bernama Roro Dilah atau Roro Wetan yang kemudian dikenal
dengan sebutan Nyai Bagelen. Roro Dilah juga dapat disebut dengan Roro Wetan
karena kedudukannya di daerah timur. Sri Getayu memiliki cucu dari putra Kayu
Mutu bernama Awu-Awu Langit. Ia berkedudukan di Awu-Awu (Ngombol). Setelah
dewasa, Roro Dilah menikah dengan Raden Awu-Awu Langit dan menetap di Hargopuro
atau Hargorojo.
Dari pernikahan tersebut, Roro Dilah atau Roro Wetan dan
Pangeran Awu-Awu Langit dianugrahi tiga orang putra, Bagus Gentha, Roro Pitrang
dan Roro Taker.
Kesibukan Roro Wetan dan Awu-Awu Langit adalah bertani padi,
ketan, dan kedelai, beternak sapi, ayam dan juga menenun. Konon karena tanahnya
cocok untuk ditanami kedelai dan hasilnya melimpah maka wilayah tersebut
dikenal dengan nama Medang Gelih atau Padelen dan sekarang disebut dengan
Bagelen.
Roro Wetan atau Nyai Ageng Bagelen sosoknya tinggi besar dengan
rambut terurai dan senang memakai kemben lurik. Beliau memiliki keistimewaan
berupa kemampuan spiritualnya dan juga payudaranya yang sangat panjang sehingga
ketika putra-putrinya ingin menyusu ia tinggal menyampirkan ke belakang.
Pada suatu ketika, Nyai Ageng Bagelen sedang asik menenun.
Sebagaimana biasanya, ia menyampirkan payudaranya ke belakang supaya tidak
mengganggu. Tidak disangka-sangka datang anak sapi menghampirinya, Nyai Ageng
Bagelen mengira itu salah satu putra-putrinya yang ingin menyusu. Tanpa
menghiraukan kedatangan anak sapi tersebut ia terus asik menenun. Terkejutlah
ia ketika menoleh, ternyata yang menyusu bukanlah anaknya tetapi anak sapi itu.
Kejadian tersebut membuat Nyai Ageng Bagelen merasa malu dan
marah, sehingga menyebabkan pertengkaran dengan Raden Awu-Awu Langit. Dan
akhirnya ia menyampaikan pesan supata atau wewaler untuk semua anak cucu
beserta keturunannya, agar atau jangan tidak memelihara sapi.
Peristiwa yang memilukan atau menyedihkan juga terjadi kembali
pada hari Selasa Wage. Pada waktu itu masih musim panen kedelai dan padi ketan
hitam. Kedua putrinya Roro Pitrang dan Roro Taker masih senang bermain-main.
Namun tidak sebagaimana biasanya, hingga sore hari kedua putri itu tidak
kunjung pulang.
Selesai menenun Nyai Ageng Bagelen berusaha mencari. Karena
tidak menemukannya, ia menanyakan kepada suaminya. Namun jawaban Raden Awu-Awu
Langit sepertinya kurang mengenakan. Dengan perasaan marah dan jengkel
disongkelah padi ketan hitam dan kedelai di dalam lumbung sehingga isinya
berhamburan terlempar jauh hingga jatuh di desa Katesan dan Wingko Tinumpuk.
Betapa terkejutnya Nyai Ageng Bagelen ketika melihat kedua putri
kesayangannya terbaring lemas pada lumbung padi tersebut. Setelah didekati
ternyata mereka telah meninggal.
Semenjak peristiwa tersebut kehidupan Nyai Ageng Bagelen dengan
Raden Awu-Awu Langit selalu diwarnai dengan pertengkaran. Akibatnya Raden
Awu-Awu Langit memutuskan untuk pulang ke daerahnya, Awu-Awu, sedangkan Nyai
Ageng Bagelen tetap tinggal di Bagelen untuk memerintah negeri.
Suatu ketika terdengar kabar bahwa Raden Awu-Awu Langit
meninggal di desa Awu-Awu. Mendengar berita tersebut Nyai Ageng Bagelen merasa
sedih dan berpesan kepada Raden Bagus Gentha bahwa anak cucu keturunannya
dilarang atau berpantangan untuk bepergian atau jual beli, mengadakan hajad
pada hari pasaran Wage, karena pada hari itu saat jatuhnya bencana dan
merupakan hari yang naas. Selain itu orang-orang asli Bagelen juga berpantangan
untuk menanam kedelai, memelihara lembu, memakai pakaian kain lurik, kebaya
gadung melati dan kemben bagau tulis.
Setelah Nyai Ageng Bagelen menyampaikan pesan tersebut kepada
Raden Bagus Gentha putranya, ia kemudian masuk ke kamarnya dan lemudian
menghilang tanpa meninggalkan bekas atau moksa.
Selain itu Nyai Ageng Bagelen juga mengajarkan kepada anak cucu
keturunannya agar melakukan tiga hal, yaitu: bersikap jujur, berpenampilan
sederhana dan lebih baik memberi dari pada meminta.
Sepeninggalan Nyai Ageng Bagelen, kedudukan dan pemerintahan
Bagelen digantikan oleh Raden Bagus Gentha.
Cerita di atas merupakan cerita lisan dari Bapak Usaryo Cokro
Husodo, juru kunci dari petilasan Nyai Ageng Bagelen yang berada di kecamatan
Bagelan
Komplek petilasan Nyai Bagelen terdapat sejumlah makam kuno dan
peninggalan sejarah Buddha yang berupa stupa-stupa berjumlah sembilan buah
dengan masing-masing ukuran stupa yang berbeda dan dinyatakan sebagai
peninggalan sejarah purbakala yang dilindungi oleh Undang-Undang
Gb. Stupa Di Pesarean
Nyai Bagelen
Jika
diantara kalian ada yang menginginkan kelanjutan cerita ini, bisa mencari
sesorang yang masih Keturunan dari Nyi Bagelen, dan mereka bisa di temui di
suatu Pesantren Tertutup dan terpencil yang berada di Desa yang bernama Desa
Brenggong Jambul.


Ponte Vedra Casino - Mapyro
BalasHapusFind addresses, see photos and read 23 reviews of 경기도 출장샵 Ponte 제천 출장마사지 Vedra Casino, 영주 출장샵 Las Vegas, NV from Address: 8945 S S Flamingo Road 김제 출장샵 Las Vegas, NV 89449. Hotel:. 논산 출장샵